MAKALAH
Makalah
Ini Digunakan Untuk Memenuhi
Tugas
Kelompok Mata kuliah
Etika
Profesi

Disusun Oleh :
KELOMPOK 4
Elisa Ayu Putri 18071011P
Indah Permata
Sari. 18071005P
Mita Ariyanti 17071042
Jurusan Sistem Informasi
STMIK DCC KOTABUMI
Tahun 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah Yang Maha Esa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan HidayahNya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana
dengan judulPeran IQ, EQ, dan CQ,
dalam Pengembangan Profesi, semoga makalah ini dapat di pergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk, maupun pedoman bagi pembacanya.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu kiranya penulis dengan
ketulusan hati mengucapkan terima kasih kepada Pembimbing Mata Kuliah Etika
Profesi yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis
juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu kami harapkan demi perbaikan laporan selanjutanya.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Kotabumi,
30 Mei 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
..................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan masalah ............................................................................................ 1
C. Tujuan .............................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
IQ, EQ, dan CQ ............................................................................ 3
1.
IQ
(Intelligent Quotient)
................................................................................. 3
2.
EQ
(Emotional Quotient) ................................................................................ 4
3.
CQ
(Creativity Quotient) ................................................................................ 9
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan
...................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA
...................................................................................................... 16
LAMPIRAN................................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang
Derasnya laju informasi, ilmu pengetahuan dan tekhnologi memicu dan memacu setiap orang
untuk menjadi cerdas. Banyak orang tua yang berburu jasa kursus,
pelatihan, bimbingan belajar dan lain sebagainya untuk mencerdaskan anak mereka. Dalam hal ini, kecerdasan di definisikan sangat sederhana,
yakni jika anak 2 tahun telah mampu mengeja sederet kata bahkan sederet kalimat dengan baik, maka Ia dikatakan sebagai anak yang cerdas karena banyak anak lain pada usia tersebut belum mampu melakukannya.
Menurut
Daniel goleman (Emotional Intelligent: 1996) “ orang yang mempunyai IQ
tinggi tetapi EQ rendah cenderung mengalami kegagalan yang lebih besar disbanding dengan orang yang
IQ-nya rata-rata tetapi EQ-nyatinggi”. Artinya bahwa penggunaaan EQ
atau sering disebut olahrasa menjadi hal yang sangat penting yang dalam dunia kerja berperan dalam kesuksesan karir seseorang,
yakni 85% EQ dan 15% IQ. Jadi peran EQ sangat
siginifikan.
Kita perlu mengembangkan IQ menyangkut pengetahuan dan keterampilan, namun
kita juga harus menampilkan EQ yang sebaik-baiknya karena EQ harus dilatih.,
jadi yang ideal memang kita perlu menyeimbangkan antara EQ, IQ, dan CQ.
Oleh karena itu, dalam makalah ini kami sangat tertarik mengkaji tentang peran
EQ, IQ, dan CQ dalam perkembangan profesi yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia
kerja.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dan peran IQ, EQ,
dan CQ bagi perkembangan profesi?
C.
Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.
Untuk mengetahui pengertian dan peran IQ, EQ,
dan CQ terhadap perkembangan profesi.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
IQ
Menurut
Marten Pali, “Intellegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara logis terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif”.
(Solihin, 2013: 131).
a.
PENGUKURAN/ KLASIFIKASI IQ:
Very Superior : 130-
Superior : 120-129
Bright
normal : 110-119
Average : 90-109
Dull
Normal : 80-89
Borderline : 70-79
Mental
Detective : 68- Bellow
b.
CIRI KHAS IQ:
-
Logis
-
Rasional
-
Linear
-
Sistematis
Dengan memiliki IQ yang baik dan terstandar maka masing-masing individu memiliki kemantapan pemahaman tentang potensi diri dan pengembangannya untuk kegiatan-kegiatan
yang kreatif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk peranannya sebagai pelaksana / pelaku profesi.
2.
EQ (Emotional Quotient)
Dalam Moh Solihin (Etika Profesi keguruan, 2013: 133) kecerdasan emosi dapat didefinisikan:
a.
Kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri,
mengelola emosi dengan baik dan berhubungan dengan orang lain (Daniel Goldman)
b.
Kemampuan mengerti dan mengandalikan emosi (Peter Salovely & John Mayer)
c.
Kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan-kekuatan,
ketajaman, emosi sebagai sumber energy, informasi, dan pengaruh (Cooper &Sawaf).
d.
Bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, adaptasi sosial (Seagel).
Aspek
EQ (Salovely& Goldman) ada lima, yaitu:
a.
Kemampuan mengenal diri (kesadarandiri).
b.
Kemampuan mengelolaemosi (penguasaandiri).
c.
Kemampuan memotivasi diri.
d.
Kemampuan mengendalikan emosi orang lain.
e.
Kemampuan berhubungan dengan orang lain (empati).
Moh Solihin menyimpulkan ciri-ciri perilaku cerdas emosi sebagai berikut:
a.
Menghargai emosi negative orang lain.
b.
Sabarmeng hadapi emosi negative orang
lain.
c.
Sadar dan menghargai emosi diri-sendiri.
d.
Emosi
negative untuk membinan hubungaan.
e.
Peka terhadap emosi orang lain.
f.
Tidak bingung menghadapi emosi orang lain.
g.
Tidak menganggap lucu emosi orang
lain.
h.
Tidak memaksa apa yang harus dirasakan.
i.
Tidak harus membereskan emosi orang lain.
j.
Saat emosional adalah saat mendengarkan.
Emotional
Quotient (EQ) mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan professional. EQ dianggap sebagai
persyaratan bagi kesuksesan pribadi. Alasan utamanya adalah masyarakat percaya
bahwa emosi-emosi sebagaimana salah pribadi dan tidak memiliki tempat di luar
inti batin seseorang juga batas-batas keluarga.
Dr.
Daniel Goleman dalam Moh Solihin (2013:
135) berasumsi betapa pentingnya peran EQ dalam kesuksesan pribadi dan professional, yakni:
·
90%
prestasi kerja ditentukan oleh EQ
·
Pengetahuan dan teknis hanya berkontribusi
4%
·
Dari
banyak penelitian didapatkan hasil bahwa individu yang mempunyai IQ tinggi menunjukkan criteria buruk dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ rendah justru sangat berprestasi. Hal ini dikarenakan individu yang mempunyai IQ tinggi seringkali memiliki sifat-sifat menyesatkan sebagai berikut:
-
Yakin
tahu semua hal.
-
Sering menggunakan pikiran untuk menalar bukan untuk merasakan.
-
Meyakini bahwa IQ lebih penting disbanding EQ.
-
Sering membuat prioritas-prioritas yang merusak kesehatan diri sendiri.
4. CQ (CRETIVITY
QUOTIENT) KECERDASAN KREATIVITAS
Faid Poniman, Indrawan Nugrogo, Jamil Azzaini
(2007:224) menyatakan bahwa creativity quotient diukur untuk mengetahui tingkat
kreatifitas seseorang.
Kreativitas
adalah potensi seseorang untuk memunculkan suatu yang penemu-penemu baru dalam
bidang ilmu dan tekhnologi serta semua bidang usaha lainnya (Moh Solihin,
2013:142)
Lima Ciri Kreatifitas (Guil Ford dalam Moh
Solihin, 2013:142)
a. KELANCARAN;
kemampuan memproduksi banyak ide
b. KELUWESAN;
kemampuan untuk mengajukan bermacam-macam pendekatan jalan pemecahan masalah
c. KEASLIAN;
kemampuan untuk menghasilkan gagasan orisinil
d. PENGURAIAN;
kemampuan mengurangi sesuatu secara terperinci
e. PERUMUSAN
KEMBALI; kemapuan untuk mengkaji kembali suatu persoalan melalui cara yang
berbeda dengan yang sudah lazim
Kreativitas adalah kemampua untuk mencipta dan
berkreasi, tidak ada satupun pernyataan yang dapay diterima secara umum
mengenai mengapa suatu kreasi itu timbul Moh Solihin (2013:142).
Ada dua unsur kreativitas:
a. Kepasihan yang
ditunjukan oleh kemampuan menghasilkan sejumlah besar gagasan dan ide-ide pemecahan masalah secara lancar dan cepat.
b. Keluwesan yang
pada umumnya mengacu pada kemampuan untuk menentukan gagasan atau ide yang
berbeda-beda dan luar biasa untuk memecahkan suatu masalah.
Seorang manusia yang kreatif akan terbuka
fikiran dan imajinassinya, gagsn sendiri maupun orang lain. Beberapa pengamat
yang memiliki rasa humor merakasan bahwa manusia butuhkan untuk menciptatakan
sesuatu yang berasal dari keinginannya untuk hidup diluar kemampuan merreka.
Namun penelitian mengungkapkan bahwasannya manusia berkreasi adalah karena
adanya kebutuhan dasar, seperti keamanan, cinta dan penghargaan.
Seseorang termotivasi untuk berkreasi oleh
lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup yang lebih menyenangkan,
kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan hidup dan kemungkinan untuk
menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
a. Hambatan Untuk
Menjadi lebih Kreatif
Banyak faktor yang menyebabkan seseorang yang
seharusnya berfikir kreatif tetapi terhambat misalnya karena faktor kebiasaan,
waktu, bbanyak masalah, tidak ada masalah takut gagal, kebuuhan akan sebuah
jawaban sekarang, kegiatan mental yang sulit diarahkan, takut bersenang0senang,
dan juga karena ritik dari orang lain.
Moh Solihin (2013:143) mengatakan bahwa ada
beberapa cara memunculkan gagasan kreatif:
1) Kuantitas
Gagasan
Tekhnik-tekhnik kreatif dalam berbagai
tingkatan keseluruhannya bersandar pada pengembangan pertama sejumlah gagasan
sebagaisuatu cara untuk memperoleh gagasan yang baik dan kreatif. Akan tetapi
bila masalahnya besar dimana kita ingin mendapatkan pemecahan baru dan orisinil
maka kita membutuhkan banyak gagasan untuk dipilih.
2) Tekhnik
Brainstorming
Merupakan cara yang banyak digunakan, tetapi
juga merupakan tekhnik pemecahan kreatif yang tidak banyak dipahami. Tekhnik
ini cenderung menghasilkan gagasan baru yang orisinil untuk menambah jumlah
gagasan konvensional yang ada.
3) Sinektik
Suatu metode
atau proses yang menggunakan metafora dan analogi untuk menghasilkan gagasan
kreatif atau wawassan segar kedalam permasalahan, maka proses sinektik mencoba
membuat yang asing menjadi akrab dan juga sebaliknya.
4) Memfokuskan
Tujuan
Membuat seolah-oleh apa yag diinginkan akan
terjadi besok, telah terjadi saat ini dengan melakukan visualisasi yang kuat.
SDM sebagai pelaksana dengan suatu profesi
dengan tingkat kecerdasan kreativitas (CQ) yang tinggi adalah mereka yang
kreatif, dan dapat mampu mencari dan menciptakan terobosan-terobosan dalam
membatasi berbagai kendala atau permasalahan yang muncul dalam lembaga yang
digeluti.karena seorang pelaksana profesi yang inin mencapai nilai-nilai
profesional haruslah mempunyai CQ yang tingi karena agar mampu menghasilkan
ide-ide baru atau orsinil dalam meningkatkan daya saing dalam dunia kerjanya
dan lebih luas lagi daya saing di era globalisasi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
IQ merupakan keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara logis terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Emotional
Quotient EQ mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan professional. EQ dianggap sebagai
persyaratan bagi kesuksesan pribadi.
CQ merupakan kecerdasan kreativitas adalah potensi seseorang untuk
memunculkan suatu yang penemu-penemu baru dalam bidang ilmu dan tekhnologi
serta semua bidang usaha lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Goleman,
Daniel. 2006. Emotional Intelligence. Bantam Books
Solihin, Moh.
2013. EtikaProfesiKeguruan. Jember: STAIN Jember Press
Zohar, Danah. Ian Marshall. 2007. SQ; KECERDASAN SPIRITUAL.
Diterjemahkan oleh;
Rahmani Astuti, Ahmad Najib Burhani.Bandung: PT Mizan Pustaka.
Imam G, M Arafat. 2015. Leader University Step by Step Leader.
Kim-Ara Holdings
Groub.
Poniman, Farid. Cs. 2007. Kubik Leadership. Bandung: PT Mizan
Publika.
Study Account
Really Account
No comments:
Post a Comment