Thursday, July 18, 2019

KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN

Kebaikan, Kebajikan Dan Kebahagiaan


MAKALAH
ETIKA PROFESI
“KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN”
 
 

Disusun Oleh :
1.          FAIZUL HADI PRATAMA
2.          M. ROZI ABDUL AZIZ
3.          RIDHO ABI SUWANDI     


DosenPengampu :
ROMADHON, M.Pd

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
DIAN CIPTA CENDIKIA KOTABUMI
TAHUN 2019




A. Kebaikan

1.  Tidak   semua   kebaikan   merupakan   kebaikan   akhlak.   Suatu tembakan yanbaik dalam pembunuhan, dapat merupakan perbuatanakhlak yang buruk. Secara umum kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia.  Tingkah  laku manusia  adalah  baik  dan  benar,  jika tingkah laku tersebut menujukesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikanitu bagi seseorang menjadi yang konkrit.
2.   Manusia menentukan tingkah lakunya untuk tujuan dan memilih jalanyang ditempuh.
Pertama kali  yang timbul  dalam  jiwa adalah tujuan itu,  dalam pelaksanaannya  yang pertama diperlukan adalah jalan-jalan itu. Jalanyang ditempuh mendapatkan nilai dari tujuaakhir.
Tujuan harus ada, supaya manusia dapat menentukan tindakan pertama.Kalau tidak, manusia akan hidup secara serampangan. Tetapi bisa jugaorang mengatakan hidup secara serampangan menjadi tujuan hidupnya.Akan tetapi dengan begitu manusia tidaaka sampai  kepadkesempurnaa kebaikan  selara dengan derajat manusia.
Manusia harus mempunyatujuan akhir untuk arah hidupnya.
3. Untuk tiap manusia, hanya terdapat satu tujuan akhir. Seluruh manusiamempunyai sifat serupa dalam usaha hidupnya, yaitu menuntut kesempurnaan.
Tujuan   akhir   selamnya   merupakan   kebaikan   tertinggi,   baik manusia itu mencarinya dengan kesungguhaatau tidak. Tingkah lakuatau perbuatan menjadi baik dalam arti akhlak, apabila membimbing manusia ke arah tujuan akhir, yaitu dengan melakukan perbuatan yang membuatnya baik sebagai manusia.

4.   Kesusilaan
a.   Kebaikan   atau   keburukan   perbuatan   manusia   Objektif,Subjektif, Batiniah, Lahiriah
-    Keadaan perseorangan tidak dipandang.
-    Keadaan perseorangan diperhitungkan.
-     Berasal    dari    dalam    perbuatan    sendiri    (Kebatinan,Instrinsik).
-    Berasal   dari   perintah   atau   larangan   Hukum   Positif
(Ekstrintik).
Persoalannya : Apakah seluruh kesusilaan bersifat lahiriah dan menurut tata adab saja ataukah ada kesusilaan yang batiniah yaitu :yang terletak dalam perbuatan sendiri.
b.   Unsur-unsur yang menentukan kesusilaan
Ada 3 unsur :
1)  Perbuatan itu sendiri, yang dikehendaki pembuat ditinjau dari sudut kesusilaan.
2)  Alasan (motif). Apa maksud  yang dikehendaki  pembuat dengan perbuatannya Apa  doronga manusia melaksanakanperbuatannya.
3) Keadaan, gejala tambahan yang berhubungan dengan perbuatan itu.
Seperti : Siapa, Di mana, Apabila, Bagaimana, Dengan alat apa, Apa, dan lain sebagainya.
c.   PenggunaaPraktis
1) Perbuatan yang dengan sendirinya jahat, tak dapat menjadi baikatau netral karenalasan atau keadaan. Biarpun mungkin taraf keburukannydapat berubah sedikit, orang tak boleh berbuajahatuntuk mencapai kebaikan.
2) Perbuatan yang baik, tumbuh dalam kebaikannya, karena kebaikan alas  a da keadaannya Suatu  alasa atau keadaan yang jahasekali, telacukup untuk menjahatkan perbuatan. Kalaukejahatan itu sedikit, maka kebaikan perbuatannya hanya akandikurangi.
3)  Perbuatan netral memperoleh kesusilaannya, karena alasan dan keadaannya Jika  ada  beberapa  keadaan,  baik  dan jahat, sedan perbuata it sendiri  ada  baik  da jahat,

sedanperbuatan itu sendiri ada baik atau netral, dipergunakanAsas Akibat Rangkap, yang tidak berlaku bagi alasan ataumaksud, karena itu selamanya dikehendaki langsung.
d.  Dalam  praktek,  ta mungkin  ada  perbuatan  kemanusiaan netral,sebabnya perbuatan itu setidak-tidaknya secara implisit mempunyaitujuan. Kesusilaan tidak semata-mata hanya tergantung pada maksuddan kemauan baik, orang harus menghendaki kebaikan. Perbuatan lahiriah, yang diperintahkan kemauan baik, didasari oleh kemauanperbuatan batiniah.


B.  Kebajikan
1. Kebiasaa (habit merupaka kualitas  kejiwaan,  keadaa yang tetap, sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan.
Kebiasaa disebut  kodrat  yan kedua Ulanga perbuatan
memperkuat kebiasaan, sedangkan meninggalkan suatu perbuatan ataumelakukan perbuatan yang bertentangan akan melenyapkan kebiasaan.
Kebiasaan  dalam  pengertian  yang sebenarny hanya ditemukan padamanusia, karena hanya manusia yandapat dengan sengaja, bebas, mengarahkakegiatannya.
2.   Kebiasaan yang dari sudut kesusilaan baik dinamakan kebajikan (virtue), sedangkan yang jahat, buruk, dinamakan kejahatan (vice). Kebajikan adalah kebiasaan yanmenyempurnakan manusia. Kebajikanadalah pengetahuan, kejahatan ketidaktahuan. Tidak ada orang berbuatjahat dengan sukarela” (Socrates). Keinginan manusia dapat menentangakal, dan akal tidak mempunyai kekuasaan mutlak atas keinginan, kecualikekuasaan tidak langsung. Keinginan harus dilatih untuk tunduk kepada budi”. (Aristoteles).
3.   Kebajika budi  menyempurnaka aka menjad alat  yan baik untukmenerima pengetahuan. Bagi budi spekulatif kebajikan disebut pengertian, pengetahuan.
Bagi budi praktis disebut kepandaian, kebijaksanaan. Kebajikan kesusilaan menyempurnakan keinginan, yaitu dengan cara tengah.

4.   Kebajikan   pokok,   adalah   kebajikan   susila   yang   terpenting, meliputi :
a Menuntut  keputusan  budi  yag bena guna memilih  alat-alat
dengan tepat untuk tujuan yang bernilai (kebijaksanaan).
b)  Pengendalian     keinginan     kepada     kepuasan     badaniah
(pertahanan/pengendalian hawa nafsu inderawi).
c Tidak menyingkir dari kesulitan (kekuatan).
d)  Memberikan hakepada yang memilikinya (keadilan).


C.   Kebahagiaan
1.   KebahagiaaSubjektif
a)   Manusia  merasa  kosong tak  puas,  gelisah,  selama keinginannya tak terpenuhi.
Kepuasan yang sadar, yang dirasakan seseorang karena keinginannyamemiliki kebaikan sudaterlaksana, disebut kebahagiaan. Inimerupakan perasaan khas berakal budi. Kebahagiaan sempurnaterjadi, karena kebaikan sempurna dimiliki secara lengkap, sehinggamemenuhi seluruh keinginan kita, yang tidasempurna/berisikekurangan.
b) Seluruh  manusia  mencari  kebahagian,  karena  tia orang berusaha memenuhi keinginannya. Kebahagiaan merupakan dasaalasan,seluruh perbuatan manusia. Tetapi terdapat perbedaan   tentang   ap yang   akan   menjadi   hal   yang memberikan kebahagiaan.
Biarpun seseorang memilih kejahatan, tetapi secara implisit ia memilihnya untuk mengurangi ketidakbahagiaan.
c Apakah kebahagiaan sempurna dapat dicapai ?
Kaum Ateis, kalau konsekuen, harus mengatakan kebahagiaan sempurna itu tidak ada. Karena mereksemata-semata membatasikehidupan pada duniawi dan mengingkari hal yang bersifat supra-natural.
Beberapa jalan fikiran yang perlu dipertimbangkan, yang menganggap kebahagiaan sempurna itu dapat dicapai, adalah :
1) Manusia mempunyai keinginan akan bahagia sempurna.

2)  Keinginan  tersebut  merupakan  bawaa kodra manusia, yangmerupakan dorongan pada alam rohaniah yang bukan sekedaefek sampingan.
3)  Keinginan tersebut berasal dari sesuatu yang transenden.
4) Sifat bawaan tersebut dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan harkamanusia.

d)  Pada manusia terdapat pula keinginan yang berasal dari nafsu-
serakahnya.
Sehingg seringkali  menutup  keinginan  menutup  keinginan yangberasal dari sanubarinya.

2.   Kebahagiaan Objektif
a) Manusia berusaha melaksanakan dalam dirinya suasana kebahagiaan(sempurna) yang tetap. Ini tujuan subjektif bagi manusia.
Pertanyaan : Apakah objek yang dapat memberikan kepada manusia suasana  kebahagiaa sempurna  ? Apaka tujuaakhir manusiayang bersifalahiriah dan objektif ?
Terdapat berbagai aliran :
1)  Hedonisme
Kebahagiaan adalah kepuasaan jasmani, yang dirasa lebih insentif dari kepuasan rohaniah.
2)  Epikurisme
Suasana kebahagiaan, ketentraman jiwa, ketenangan batin, sebanyak mungkin menikmati, sedikit mungkin menderita. Oleh sebab itu harus membatasi keinginan, cita-cita yang baik adalahmenghilangkan keinginan yantak dapat dicapai.
3)  Utilitarisme
Kebahagiaaadalah faedah bagi diri sendiri maupun masyarakat.
JeremBentham (1748-1832) Bersifat utilitaris kepada kependidikan umum, tetapi karena masih mengingat kepentingan individu sebagai anggota masyarakat- ukurannya kuantitatif.
John Stuart Mill (1806-1873)

Utilitarisme telah mencapai perkembangan sepenuhnyyangbersifat altruistik. Tiap orang harus menolong untuk kebahagiaantertinggi, bagi manusia banyak-ukurannya kualitatif.
4)  Stoisisme (MazhaCynika Antisthenes)
Kebahagiaan adalah melepaskan diri dari tiakeinginan, kebutuhan, kebiasaan, atau ikatan. Kebahagiaan tidak terlepaspada hal tersebut. Tidak terletak dalam kepuasan, tetapi padaorang merasa cukup dengan dirinya sendiri” (Sutarkeia) inimerupakan kebaikan dan kebajikan. Terikat pada pribadi sendiriitu, adalah sifat  yang dihargai oleh Stoa, intisari manusia dianggap manifestasi Logos (budi)Semangat ini pertama kaliberkembang tahun 300 Masehi di Athena.
5)  Evolusionisme
Tujun  akhir  manusia  sebaga evolusi  ke  ara puncak tertinggi yang belum diketahui bentuknya. Evolusionisme merupaka ajara kemajuan,  pertumbuhan,  yang  selalu dilakukan manusia, kendatipun tujuan terakhir tak dikenal. Herbert     Spencer     (1820-1903)  

b).  Untuk pengertian yang benar orang harus memikirkan :
1)  Kebahagiaan  sempurn tidak  berarti  kebahagiaa yang tidakterbatas, objek tak terhingga tidak dimiliki dengacara yang tak terhingga.
2)  Kodrat akal manusia terbatas, kekuatannya setiap saat juga terbatas.   Tetapi   datangnya   kekuatan   akal   selalu   tak terbatas, dan tak dapat terpenuhi dengan baik. Hanya yang takberhingga yang dapat memenuhinya. Dalam hidup di dunia inipengetahuan kita masih gelap dan tidak tetap, sehinggakebahagiaan yansempurna tidak tercapai. Pengetahuan yang semakin sempurna akan tumbuh persesuaiadengaperaturan Tuhan.
3) Objek kebahagiaan yang tarafnya rendah turut serta mengalamikebahagiaan dari yang bertaraf lebih tinggi. Intisari kebahagiaan terdiri dari kepuasaan akal dan kepuasan kehendak karenamemiliki Tuhan. Kepuasan lainnya hanya merupakan cabang kebahagiaan yang menambah kebahagiaan pokok.

KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN

Kebaikan, Kebajikan Dan Kebahagiaan MAKALAH ETIKA PROFESI “KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN”     Disusun Oleh : ...