Kebaikan, Kebajikan Dan Kebahagiaan
MAKALAH
ETIKA PROFESI
“KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN”
Disusun Oleh :
1. FAIZUL HADI PRATAMA
2. M. ROZI ABDUL AZIZ
3. RIDHO ABI SUWANDI
DosenPengampu :
ROMADHON, M.Pd
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
DIAN CIPTA CENDIKIA KOTABUMI
TAHUN 2019
A. Kebaikan
1. Tidak semua kebaikan merupakan kebaikan akhlak. Suatu tembakan yang “baik” dalam pembunuhan, dapat merupakan perbuatanakhlak yang buruk. Secara umum kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik dan benar, jika tingkah laku tersebut menujukesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikanitu bagi seseorang menjadi yang konkrit.
2. Manusia menentukan tingkah lakunya untuk tujuan dan memilih jalanyang ditempuh.
Pertama kali yang timbul dalam jiwa adalah tujuan itu, dalam pelaksanaannya yang pertama diperlukan adalah jalan-jalan itu. Jalanyang ditempuh mendapatkan nilai dari tujuan akhir.
Tujuan harus ada, supaya manusia dapat menentukan tindakan pertama.Kalau tidak, manusia akan hidup secara serampangan. Tetapi bisa jugaorang mengatakan hidup secara serampangan menjadi tujuan hidupnya.Akan tetapi dengan begitu manusia tidak akan sampai kepada kesempurnaan kebaikan selaras dengan derajat manusia.
Manusia harus mempunyai tujuan akhir untuk arah hidupnya.
3. Untuk tiap manusia, hanya terdapat satu tujuan akhir. Seluruh manusiamempunyai sifat serupa dalam usaha hidupnya, yaitu menuntut kesempurnaan.
Tujuan akhir selamnya merupakan kebaikan tertinggi, baik manusia itu mencarinya dengan kesungguhan atau tidak. Tingkah lakuatau perbuatan menjadi baik dalam arti akhlak, apabila membimbing manusia ke arah tujuan akhir, yaitu dengan melakukan perbuatan yang membuatnya baik sebagai manusia.
4. Kesusilaan
a. Kebaikan atau keburukan perbuatan manusia Objektif,Subjektif, Batiniah, Lahiriah
- Keadaan perseorangan tidak dipandang.
- Keadaan perseorangan diperhitungkan.
- Berasal dari dalam perbuatan sendiri (Kebatinan,Instrinsik).
- Berasal dari perintah atau larangan Hukum Positif
(Ekstrintik).
Persoalannya : Apakah seluruh kesusilaan bersifat lahiriah dan menurut tata adab saja ataukah ada kesusilaan yang batiniah yaitu :yang terletak dalam perbuatan sendiri.
b. Unsur-unsur yang menentukan kesusilaan
Ada 3 unsur :
1) Perbuatan itu sendiri, yang dikehendaki pembuat ditinjau dari sudut kesusilaan.
2) Alasan (motif). Apa maksud yang dikehendaki pembuat dengan perbuatannya. Apa dorongan manusia melaksanakanperbuatannya.
3) Keadaan, gejala tambahan yang berhubungan dengan perbuatan itu.
Seperti : Siapa, Di mana, Apabila, Bagaimana, Dengan alat apa, Apa, dan lain sebagainya.
c. Penggunaan Praktis
1) Perbuatan yang dengan sendirinya jahat, tak dapat menjadi baikatau netral karena alasan atau keadaan. Biarpun mungkin taraf keburukannya dapat berubah sedikit, orang tak boleh berbuat jahatuntuk mencapai kebaikan.
2) Perbuatan yang baik, tumbuh dalam kebaikannya, karena kebaikan alas an dan keadaannya. Suatu alasan atau keadaan yang jahat sekali, telah cukup untuk menjahatkan perbuatan. Kalaukejahatan itu sedikit, maka kebaikan perbuatannya hanya akandikurangi.
3) Perbuatan netral memperoleh kesusilaannya, karena alasan dan keadaannya. Jika ada beberapa keadaan, baik dan jahat, sedang perbuatan itu sendiri ada baik dan jahat,
sedang perbuatan itu sendiri ada baik atau netral, dipergunakan“Asas Akibat Rangkap”, yang tidak berlaku bagi alasan ataumaksud, karena itu selamanya dikehendaki langsung.
d. Dalam praktek, tak mungkin ada perbuatan kemanusiaan netral,sebabnya perbuatan itu setidak-tidaknya secara implisit mempunyaitujuan. Kesusilaan tidak semata-mata hanya tergantung pada maksuddan kemauan baik, orang harus menghendaki kebaikan. Perbuatan lahiriah, yang diperintahkan kemauan baik, didasari oleh kemauanperbuatan batiniah.
B. Kebajikan
1. Kebiasaan (habit) merupakan kualitas kejiwaan, keadaan yang tetap, sehingga memudahkan pelaksanaan perbuatan.
Kebiasaan disebut “kodrat yang kedua”. Ulangan perbuatan
memperkuat kebiasaan, sedangkan meninggalkan suatu perbuatan ataumelakukan perbuatan yang bertentangan akan melenyapkan kebiasaan.
Kebiasaan dalam pengertian yang sebenarnya hanya ditemukan padamanusia, karena hanya manusia yang dapat dengan sengaja, bebas, mengarahkan kegiatannya.
2. Kebiasaan yang dari sudut kesusilaan baik dinamakan kebajikan (virtue), sedangkan yang jahat, buruk, dinamakan kejahatan (vice). Kebajikan adalah kebiasaan yang menyempurnakan manusia. “Kebajikanadalah pengetahuan, kejahatan ketidaktahuan. Tidak ada orang berbuatjahat dengan sukarela” (Socrates). “Keinginan manusia dapat menentangakal, dan akal tidak mempunyai kekuasaan mutlak atas keinginan, kecualikekuasaan tidak langsung. Keinginan harus dilatih untuk tunduk kepada budi”. (Aristoteles).
3. Kebajikan budi menyempurnakan akal menjadi alat yang baik untukmenerima pengetahuan. Bagi budi spekulatif kebajikan disebut pengertian, pengetahuan.
Bagi budi praktis disebut kepandaian, kebijaksanaan. Kebajikan kesusilaan menyempurnakan keinginan, yaitu dengan cara tengah.
4. Kebajikan pokok, adalah kebajikan susila yang terpenting, meliputi :
a) Menuntut keputusan budi yag benar guna memilih alat-alat
dengan tepat untuk tujuan yang bernilai (kebijaksanaan).
b) Pengendalian keinginan kepada kepuasan badaniah
(pertahanan/pengendalian hawa nafsu inderawi).
c) Tidak menyingkir dari kesulitan (kekuatan).
d) Memberikan hak kepada yang memilikinya (keadilan).
C. Kebahagiaan
1. Kebahagiaan Subjektif
a) Manusia merasa kosong, tak puas, gelisah, selama keinginannya tak terpenuhi.
Kepuasan yang sadar, yang dirasakan seseorang karena keinginannyamemiliki kebaikan sudah terlaksana, disebut kebahagiaan. Inimerupakan perasaan khas berakal budi. Kebahagiaan sempurnaterjadi, karena kebaikan sempurna dimiliki secara lengkap, sehinggamemenuhi seluruh keinginan kita, yang tidak sempurna/berisikekurangan.
b) Seluruh manusia mencari kebahagian, karena tiap orang berusaha memenuhi keinginannya. Kebahagiaan merupakan dasar alasan,seluruh perbuatan manusia. Tetapi terdapat perbedaan tentang apa yang akan menjadi hal yang memberikan kebahagiaan.
Biarpun seseorang memilih kejahatan, tetapi secara implisit ia memilihnya untuk mengurangi ketidakbahagiaan.
c) Apakah kebahagiaan sempurna dapat dicapai ?
Kaum Ateis, kalau konsekuen, harus mengatakan kebahagiaan sempurna itu tidak ada. Karena mereka semata-semata membatasikehidupan pada duniawi dan mengingkari hal yang bersifat supra-natural.
Beberapa jalan fikiran yang perlu dipertimbangkan, yang menganggap kebahagiaan sempurna itu dapat dicapai, adalah :
1) Manusia mempunyai keinginan akan bahagia sempurna.
2) Keinginan tersebut merupakan bawaan kodrat manusia, yangmerupakan dorongan pada alam rohaniah yang bukan sekedat efek sampingan.
3) Keinginan tersebut berasal dari sesuatu yang transenden.
4) Sifat bawaan tersebut dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan harkat manusia.
d) Pada manusia terdapat pula keinginan yang berasal dari nafsu-
serakahnya.
Sehingga seringkali menutup keinginan menutup keinginan yangberasal dari sanubarinya.
a) Manusia berusaha melaksanakan dalam dirinya suasana kebahagiaan(sempurna) yang tetap. Ini tujuan subjektif bagi manusia.
Pertanyaan : Apakah objek yang dapat memberikan kepada manusia suasana kebahagiaan sempurna ?. Apakah tujuan akhir manusiayang bersifat lahiriah dan objektif ?
Terdapat berbagai aliran :
1) Hedonisme
Kebahagiaan adalah kepuasaan jasmani, yang dirasa lebih insentif dari kepuasan rohaniah.
2) Epikurisme
Suasana kebahagiaan, ketentraman jiwa, ketenangan batin, sebanyak mungkin menikmati, sedikit mungkin menderita. Oleh sebab itu harus membatasi keinginan, cita-cita yang baik adalahmenghilangkan keinginan yang tak dapat dicapai.
3) Utilitarisme
Kebahagiaan adalah faedah bagi diri sendiri maupun masyarakat.
Jeremy Bentham (1748-1832) Bersifat utilitaris kepada kependidikan umum, tetapi karena masih mengingat kepentingan individu sebagai anggota masyarakat- ukurannya kuantitatif.
John Stuart Mill (1806-1873)
Utilitarisme telah mencapai perkembangan sepenuhnya yangbersifat altruistik. Tiap orang harus menolong untuk kebahagiaantertinggi, bagi manusia banyak-ukurannya kualitatif.
4) Stoisisme (Mazhab Cynika Antisthenes)
Kebahagiaan adalah melepaskan diri dari tiap keinginan, kebutuhan, kebiasaan, atau ikatan. Kebahagiaan tidak terlepaspada hal tersebut. Tidak terletak dalam kepuasan, tetapi pada“orang merasa cukup dengan dirinya sendiri” (Sutarkeia) inimerupakan kebaikan dan kebajikan. Terikat pada pribadi sendiriitu, adalah sifat yang dihargai oleh Stoa, intisari manusia dianggap manifestasi Logos (budi). Semangat ini pertama kaliberkembang tahun 300 Masehi di Athena.
5) Evolusionisme
Tujun akhir manusia sebagai evolusi ke arah puncak tertinggi yang belum diketahui bentuknya. Evolusionisme merupakan ajaran kemajuan, pertumbuhan, yang selalu dilakukan manusia, kendatipun tujuan terakhir tak dikenal. Herbert Spencer (1820-1903)
b). Untuk pengertian yang benar orang harus memikirkan :
1) Kebahagiaan sempurna tidak berarti kebahagiaan yang tidakterbatas, objek tak terhingga tidak dimiliki dengan cara yang tak terhingga.
2) Kodrat akal manusia terbatas, kekuatannya setiap saat juga terbatas. Tetapi datangnya kekuatan akal selalu tak terbatas, dan tak dapat terpenuhi dengan baik. Hanya yang takberhingga yang dapat memenuhinya. Dalam hidup di dunia inipengetahuan kita masih gelap dan tidak tetap, sehinggakebahagiaan yang sempurna tidak tercapai. Pengetahuan yang semakin sempurna akan tumbuh persesuaian dengan peraturan Tuhan.
3) Objek kebahagiaan yang tarafnya rendah turut serta mengalamikebahagiaan dari yang bertaraf lebih tinggi. Intisari kebahagiaan terdiri dari kepuasaan akal dan kepuasan kehendak karenamemiliki Tuhan. Kepuasan lainnya hanya merupakan cabang kebahagiaan yang menambah kebahagiaan pokok.

No comments:
Post a Comment